2. Konflik Geopolitik yang Memanas
Situasi global semakin tidak menentu akibat dua konflik besar yang tak kunjung mereda:
- Perang di Timur Tengah terus berkecamuk dengan tensi yang semakin tinggi.
BACA JUGA:Mata Uang Asia Hajar Dolar AS yang Melemah di Akhir Pekan, Bagaimana Nasib Rupiah?
- Konflik Rusia-Ukraina masih buntu, meskipun Trump berusaha menengahi pertemuan antara Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy untuk mencapai kesepakatan damai.
Ketidakpastian geopolitik ini membuat investor global semakin berhati-hati dan lebih memilih dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
3. Kondisi Ekonomi Dalam Negeri yang Rapuh
Faktor internal juga memainkan peran penting dalam melemahnya rupiah.
BACA JUGA:Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Kompak Bekuk Dolar AS, Senin 29 Juli 2024, Jadi Segini!
BACA JUGA:Layu Terhadap Dolar AS, Begini Perkiraan Nilai Tukar Rupiah Perdagangan Pekan Depan!
Ariston menyoroti rendahnya daya beli masyarakat yang masih belum pulih sejak tahun lalu, mencerminkan lemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Selain itu, kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggap kurang meyakinkan oleh investor juga memperburuk sentimen pasar.
Pesimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional semakin menambah tekanan terhadap rupiah.
Apa Harapan untuk Rupiah ke Depan?
BACA JUGA:Investor Antisipasi Data Penting, Rupiah Putus Tren Pelemahan Tiga Hari Beruntun